Halo, guys!
I'm comeback.
Setelah berapa lama ya aku gak bikin posting-an blog? 1 bulan? 2
bulan? Ah, entahlah, yang penting sekarang aku bawa sesuatu buat kalian. Yeay!
Sesuatu apa ya? Hmm 😕
Oke, nggak usah banyak basa-basi, langsung
aja yaa. Kali ini aku akan me-review novel yang film-nya lagi booming,
lho. Apa hayoo? Yups, novel 'Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990'.
Identitas Buku
💙 Judul : Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun
1990.
💙 Penulis : Pidi Baiq
💙 Penerbit : Pastel Book, Mizan Pustaka
💙 Tahun Terbit : April 2014
💙 Jumlah halaman : 333 halaman (e-book google playbook)
🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦🐦
Layaknya novel teenlit-romance,
cerita dalam novel ini lebih menyorot ke kisah perjuangan cinta Dilan dan
Milea. Bagaimana awal mereka kenal, lalu PDKT, kemudian menjadi akrab.
Bagaimana perjuangan dan usaha Dilan untuk mendapatkan Milea. Terkesan
mainstream? Yups. Tapi coba yuk lihat dari aspek lain. 😉
Nah, di sini yang paling aku suka adalah
gaya tulisannya Kak Pidi Baiq. Dalam novel ini menggunakan POV orang pertama,
yaitu Milea. Dan, Kak Pidi berhasil menyampaikan setiap adegan secara detail
dari sudut pandang Milea. Bahasa yang digunakan juga ringan dan sedikit puitis,
sehingga mampu bikin baper bagi beberapa kalangan remaja. 😂👍
Adegan-adegan yang ada juga unik dan
antimainstream. Bener-bener lucu dan kadang bikin senyum sendiri, bahkan kadang
sampe ngumpat gak jelas. 😂 Ada juga yang bikin kesel. Dan sekalinya
bikin kesel, emang bener-bener kesel banget tau nggak. So, pokoknya kuat
bangetlah emosinya. 👍😍
Dari segi penokohan dan karakter, aku
paling kagum dengan si pemeran utama—Dilan. Yak gila, ada yaa orang yang kek
gitu. Kek gitu dalam artian, dia itu nyantai dalam segala hal, terus juga
seperti bisa memahami keadaan orang lain, nggak main hakim sendiri dan nggak
ngikut ego, kecuali kalo emang menyangkut keselamatan orang yang disayang.
Buktinya aja, dia nggak menunjukkan kecemburuannya padahal sebenarnya dia
cemburu. Dia ngejar-ngejar Milea, tapi tau Milea sama orang lain, dianya malah
biasa aja tuh di depan Milea, nyantai kek biasa. Apa coba yang kek gituu. Gilak
banget. Salut gue ma lo, Men! Anak geng motor, panglima tempur yang nggak
se-badboy yang ku kira. Emang sih, suka berantem, bahkan Anhar yang
katanya nakal aja takut sama Dilan. Soalnya, sekali Dilan marah dan merasa
terganggu, dia langsung ngasih pelajaran sampe musuhnya KO. So motivating. 😍
Tapi, namanya juga novel remaja, pasti ada
lah yang bikin aku ngerasa kayak 'ih kok lebay ya' 'kok gini banget ya' dan
perasaan sejenis yang muncul saat baca novel remaja-percintaan lain, di samping
hal-hal yang aku sebutkan di atas. Lalu, onomatope suara ketawa yang banyak
diulang dalam beberapa adegan. Ya mungkin aku lebih nyaman aja kalo ditulis
dalam bentuk deskripsi. Tapi, di sisi lain, itu merupakan ciri khas dari tokoh
Dilan dan Milea. 😂
Overall,
novel ini sangat cocok untuk dibaca sama remaja-remaja yang lagi pengen
baper-baperan. Selain banyak adegan yang so sweet dan unik, novel ini
juga meninggalkan pesan tentang arti sebenarnya dari cinta sejati.
"... cinta sejati adalah kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan." — Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1990.
Tuh,
kalo kamu cinta sama pasangan kamu, maka kalian harus saling memberikan
kenyamanan, kepercayaan, dan dukungan dalam bentuk apapun.
Oke
guys, itulah pendapat dan kesan aku setelah membaca novel Dilan: Dia Adalah
Dilanku Tahun 1990. Btw, aku belum nonton full film-nya, tapi
udah sempet nonton spoiler dikit-dikit. Nanti deh, kalo aku udah nonton full-nya,
aku akan review juga film-nya dan bandingin dengan versi
novelnya.
Rating
: 4 of 5 (🌟🌟🌟🌟)
See you on my next review, guys!
Bye. 💜

Comments
Post a Comment